Apa Itu Test IQ? Sejarah dan Manfaatnya

Test IQ, singkatan dari tes “intelligence quotient”, hadir dalam banyak bentuk. Tes ini bermanfaat untuk membantu mendiagnosa gangguan intelektual atau mengukur potensi intelektual seseorang. Tes ini memiliki sejarah yang cukup panjang; dengan Alfred Binet, seorang psikolog Prancis, menciptakan tes intelijen pertama di awal tahun 1900an. Akan tetapi, pengujian IQ modern di Amerika merupakan hasil kerja Henry Herbert Goddard, seorang psikolog yang mendapatkan gelar doktor di bidang psikologi dari Universitas Clark tahun 1899. Goddard menerjemahkan tes milik BInet dari Bahasa Prancis ke Bahasa Inggris, dan tes tersebut digunakan untuk menguji fungsi intelektual dasar anak sekolah Amerika dan membantu mendukung diagnosa kesehatan mental.

Henry Herbert Goddart merupakan salah satu sosok yang cukup kontroversial dalam sejarah psikologi. Hal ini dikarenakan menurut Goddart, orang-orang dewasa yang memiliki IQ yang rendah tidak seharusnya memiliki keturunan. Saat ini, ada banyak test IQ yang digunakan untuk tujuan dan kepentingan yang berbeda-beda. Namun, umumnya tes IQ masih digunakan untuk mendiagnosa gangguan pembelajaran.

Jenis-jenis tes IQ

Sejak tes Binet yang kontroversial milik Goddard, para psikolog telah bekerja keras dalam mengembangkan berbagai macam jenis tes IQ. Kebanyakan dari tes IQ ini ditujukan untuk anak-anak di sekolah dasar, dan beberapa untuk orang dewasa. Ada pun jenis tes IQ yang paling umum ditemui adalah Skala Intelijen Stanford-Binet, Intelijen Nonverbal Universal, Skala Kemampuan Diferensial, Tes Prestasi Perorangan Peabody, Tes Prestasi Perorangan Wechsler, Skala Kecerdasan Dewasa Wechsler, dan Tes Cacat Kognitif Woodcock Johnson III.

Hasil tes IQ

Menurut Institut Kesehatan Anak dan Perkembangan Manusia Nasional, sekitar 85 persen anak-anak dengan gangguan intelektual memiliki nilai tes IQ di antara 55 dan 70, dengan nilai 100 dianggap sebagai rata-rata.

  • Nilai tinggi

Hasil nilai tes IQ yang tinggi, di atas 100, biasanya dihubungkan dengan tingkat intelijen yang tinggi, dengan intelijen ekstrim berada di angka 130 atau lebih. Namun, hasil-hasil tersebut masih berdasar stereotip. Nilai yang tinggi berarti seseorang memiliki banyak potensi dan bukan selalu berarti bahwa dia adalah orang yang pintar.

  • Nilai rendah

Seseorang dengan nilai kurang dari 100 dianggap memiliki tingkat intelijen “di bawah rata-rata”. Sementara itu, nilai rendah yang ekstrim, di bawah 70, perlu mendapatkan kekhawatiran tersendiri karena dapat menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan pembelajaran.

Test IQ dapat menjadi langkah pertama dalam mendiagnosa gangguan-gangguan intelektual. Apabila anak Anda memiliki nilai yang rendah, dokter akan merekomendasikan beberapa tes tambahan seperti tes darah, ultrasound otak, pemeriksaan kemampuan adaptif, dan pemeriksaan kesehatan mental menyeluruh.

Pemeriksaan prenatal juga dapat membantu mendeteksi potensi gangguan intelektual bahkan sebelum bayi lahir. Hal ini terutama penting bagi ibu hamil berusia 35 tahun atau lebih dan sering merokok atau meminum alkohol pada masa-masa kehamilan. Apabila potensi gangguan-gangguan ditemukan pada masa-masa ini, dokter anak Anda akan melakukan pemeriksaan lanjutan dengan menggunakan tes IQ pada anak saat usia dini.

Test IQ merupakan salah satu cara dalam mengukur tingkat intelijen seseorang. Saat mendiagnosa gangguan intelektual, dokter akan mengandalkan tes dan pengamatan tambahan. Tes IQ tentu harus terus dilakukan dan tidak dihentikan mengingat kemampuannya dalam mendeteksi adanya gangguan intelijen. Akan tetapi, penting untuk tidak mengandalkan tes IQ saja dalam mengukur tingkat intelijen seseorang. Untuk mendapatkan tes ini, Anda bisa menghubungi dokter Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *