Pandemi Covid-19 di Indonesia Layaknya Gunung Es

2020 mungkin menjadi salah satu tahun paling memprihatinkan bagi dunia, khususnya Indonesia. Baru tiba di bulan Maret, cobaan dan beragam ancaman terus menerus hadir. Paling anyar datang dari virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan pandemi covid-19.

Coronavirus disease 19 atau disingkat Covid-19 telah ditetapkan menjadi pandemi. Pasalnya, sebaran penyakit yang menyerang pernapasan itu amat luas, data per 26 Maret 2020 pukul 21.00, 198 negara di seluruh dunia kena imbas dari virus yang bermula dari Kota Wuhan di Provinsi Hubei, Tiongkok ini.

Virus corona model baru tersebut setidaknya telah menginfeksi hampir 500 ribu orang, di mana lebih dari 20 ribu di antaranya meregang nyawa. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data yang dirilis pemerintah per Kamis, 26 Maret 2020, pukul 21.00, kasus positif covid-19 hampir menyentuh angka 900 dengan tingkat kematian 8,6% atau sekitar 78 orang dilaporkan meninggal dunia.

Namun, Pusat Pemodelan Matematika untuk Penyakit Menular yang berbasis di London, Britania Raya, pada awal pekan ini (23/3/2020) memperkirakan bahwa angka yang dilaporkan itu barulah 2 persen dari total keseluruhan yang terjadi di lapangan. Bila menyatakan jumlah sebenarnya, artinya sudah ada 34.300 kasus yang terjadi di Indonesia. Artinya, situasi ini layaknya sebuah gunung es, hanya sedikit saja yang tampak di permukaan.

  • Indonesia Kalah Start Hadapi Pandemi Covid-19

Disebutkan pula, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, pada 2017 ketersediaan dokter di Indonesia adalah empat dokter per 10.000 orang. Sementara Italia memiliki 10 kali lebih banyak, berdasarkan jumlah per kapita. Sementara Korea Selatan mencatatkan jumlah dokter enam kali lebih banyak. Tak ayal jika lonjakan kasus covid-19 di Indonesia layaknya tak terbendung. Sebab dari awal, pemerintah tidak memiliki semacam prosedur yang matang untuk menghadapi serangan virus ini.

Hal itu menjadi sudut pandang bahwa saat ini Tanah Air kita disebutkan berada di tubir jurang dalam mengatasi pandemi COVID-19. Indonesia mengalami defisit yang signifikan atas ketersediaan tempat tidur rumah sakit, staf medis, dan fasilitas perawatan intensif. Padahal, para pakar kesehatan dunia telah memperingatkan bahwa negara kita bakal menjadi episentrum baru pandemi virus global ini, berdasar tinjauan data Reuters.

Para pakar kesehatan dunia menyebutkan bahwa Indonesia menghadapi lonjakan kasus Corona akibat respons pemerintah yang lambat, dan menutupi skala wabah di negara terpadat keempat di dunia ini. Disebutkan bahwa Indonesia telah mencatat 686 kasus namun data ini dilihat sebagai mengecilkan skala infeksi karena tingkat pengujian yang rendah dan tingkat kematian yang tinggi. Dengan angka kematian mencapai 55 jiwa (menurut data Worldometer per hari ini). Artinya, Indonesia menduduki posisi tertinggi di Asia Tenggara.

Masih dari hasil studi Pusat Pemodelan Matematika untuk Penyakit Menular yang berbasis di London, dari permodelan diproyeksikan bahwa kasus-kasus pandemi Covid-19 atau Coronavirus Disease di Indonesia dalam skenario terburuk bisa meningkat hingga 5 juta di ibukota, Jakarta, pada akhir April 2020.

  • Tenaga Medis Bak Perang Tanpa Senjata

Yang jadi masalah selanjutnya adalah, sistem kesehatan Indonesia sangat buruk bila dibandingkan dengan negara-negara lain yang terdampak COVID-19. Negara berpenduduk lebih dari 260 juta orang ini hanya memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit, menurut data Kementerian Kesehatan. Artinya, sistem kesehatan di Indonesia hanya memiliki 12 tempat tidur per 10.000 orang. Sementara sebagai perbandingan, menurut WHO, Korea Selatan memiliki 115 per 10.000 orang.

Akan tetapi, juru bicara untuk penanganan pandemi covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, dengan langkah jaga jarak yang tepat atau melakukan physical distancing, seharusnya tidak ada kebutuhan untuk menambah tempat tidur dalam situasi ini. Ia juga yakin staf medis yang ada saat ini cukup untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Kendati demikian, nyatanya para petugas medis masih menangani ratusan orang yang dirawat di rumah sakit karena pandemi Covid-19, dokter menyatakan bahwa sistem kesehatan sudah mulai tegang. Banyak staf kesehatan tidak memiliki peralatan pelindung, termasuk kisah seorang dokter yang mesti mengenakan jas hujan karena tidak ada pakaian pelindung memadai.

Sebagai tanda kontrol infeksi yang buruk di rumah sakit dan tempat layanan kesehatan, delapan dokter dan satu perawat telah meninggal karena Virus Corona atau Novel Coronavirus (Covid-19). Jumlah ini disebutkan oleh Asosiasi Dokter Indonesia. Sementara sebagai pembanding, di Italia dengan 6.077 kematian akibat virus yang sama, telah meninggal 23 dokter.

Artinya, pemerintah melalui dinas atau instansi terkait harus segera mencari langkah antisipasi sekaligus protokol pengendalian yang jelas dan matang untuk menghadapi pandemi covid-19 ini. Jangan sampai semua terlambat dan kita hanya dapat merutuk dalam gelap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *