Pelajari Hal-hal Ini Agar Siap Hadapi Bencana

Menjelang libur Natal dan tahun baru ini, tepatnya pada 22 Desember 2018, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh bencana tsunami di Selat Sunda yang mengakibatkan ratusan orang meninggal dan ribuan orang luka-luka. Bencana alam memang sulit diprediksi. Meski demikian, ada hal-hal yang bisa Anda pelajari dan lakukan sebelum, saat bencana terjadi, serta pada masa pascabencana.

Sebelum Bencana: Persiapkan Diri!

Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap bencana. Oleh karena itu, persiapan merupakan kunci penting agar selamat menghadapi bencana. Apa saja yang harus Anda lakukan?

  • Persiapkan mental:
    Sadari bahwa bencana mungkin terjadi kapan saja. Setiap orang, termasuk Anda serta keluarga tercinta punberisiko mengalaminya.
  • Cari informasi lengkap:

Pelajari informasi lengkap tentang bencana yang mungkin terjadi di sekitar daerah tempat tinggal Anda. Temukan lokasi yang aman untuk melindungi diri dan mengungsi. Pertimbangkan konstruksi bangunan rumah dan lokasinya berada di tempat aman. Pasang pendeteksi asap, dang anti baterainya (setidaknya) sekali dalam setahun.

  • Persiapkan suplai darurat:
    Listrik, air, telepon genggam, dan layanan transportasi mungkin saja tidak berfungsi. Jika Anda memiliki mobil, pastikan bahan bakarnya tersedia, setidaknya setengah penuh. Selain itu, simpan cadangan makanan, air, dan persiapan darurat di dalam mobil.
  • Catat nomor penting:
    Selalu simpan nomor-nomor kontak penting. Entah itu nomor keluarga, teman, hingga rumah sakit maupun kantor polisi terdekat.
  • Buat rencana tanggap bencana:

Ketahui pintu keluar terdekat dari bangunan rumah Anda. Begitu juga dengan rencana tanggap bencana di sekolah anak Anda. Tentukan titik bertemu keluarga – seperti sekolah atau lapangan terbuka – di dekat atau di luar kompleks rumah Anda. Akan lebih baik jika Anda berlatih berjalan bersama keluarga ke titik kumpul tersebut.

  • Rencanakan untuk membantu orang lain:
    Termasuk para lansia dan mereka yang lemah.

Organisasi tanggap bencana meminta keluarga untuk menyimpan dan memperbarui suplai darurat setiap tahun. Tentu saja, kebutuhan mungkin saja berbeda tergantung pada lokasi dan kejadian. Maka dari itu, cari tahu mengenai persiapan yang harus dilakukan, sesuai kondisi lingkungan tempat tinggal.

Secara umum, Anda sebaiknya menyimpan setidaknya tiga galon (11 liter) air minum per orang dan makanan siap saji untuk tiga hari.

Beberapa keluarga juga menyediakan “go bags” yang berisi:

  • Selimut, baju ganti, dan sepatu
  • Senter, radio (baterai), dan baterai cadangan
  • P3K dan peluit untuk sinyal bantuan
  • Alat makan, pembuka kaleng, set alat kecil, dan korek api anti air
  • Masker debu, tape antiair, dan terpal plastik untuk tempat pengungsian sementara
  • Sikat gigi, sabun, handuk, dan tisu
  • Suplai perawatan anak dan kebutuhan khusus untuk para lansia maupun penyandang disabilitas
  • Wadah kedap air berisi obat-obatan, salinan resep, dan dokumen penting lainnya
  • Daftar kontak darurat, tempat berkumpul, dan peta lokal
  • Kartu kredit dan uang tunai
  • Kunci rumah dan mobil
  • Kertas, pensil, buku, dan mainan untuk anak-anak

Saat Bencana: Cepat Bergerak

Penting untuk menyadari bahwa tidak ada pola “standar” dari reaksi terhadap stres ekstrem dari bencana yang datang tiba-tiba. Beberapa orang mungkin akan langsung bereaksi, sedangkan yang lainnya menunjukkan reaksi yang lambat. Berikut ini langkah-langkah yang harus dilakukan dalam kondisi bencana.

  • Saat kebakaran:
    Mendekatlah ke pintu, dan cepat bergerak ke pintu keluar terdekat. Asap seringkali membuat Anda kesulitan untuk melihat, dan mayoritas kematian saat kebakaran, terjadi akibat menghirup asap. Tinggalkan barang pribadi. Sebab, beberapa detik saja mungkin akan memberi pengaruh berbeda atas keselamatan Anda.
  • Saat gempa:
    Lindungi diri di bawah perabotan yang kuat atau dekat dinding bagian dalam rumah. Sadari gempa susulan, dan keluar dari bangunan sesegera mungkin. Bantuan mungkin tidak akan datang dalam hitungan jam. Jadi, cobalah untuk membantu orang lain jika dibutuhkan.
  • Saat tsunami:
    Jika air tiba-tiba naik, segera bergerak ke daratan yang lebih tinggi. Sadari kemungkinan gelombang yang lebih besar.
  • Saat banjir:
    Menjauhlah dari bangunan yang terkena banjir. Hindari berendam atau menyetir melalui air. Air banjir mungkin mengandung limbah dan bahaya tersembunyi, seperti puing-puing, lubang, bahkan aliran listrik. Selain itu, air bergerak setinggi 0,6 meter bisa mendorong mobil. Kematian saat banjir kebanyakan terjadi ketika orang-orang berusaha melarikan diri, dengan mengemudi melewati air banjir.

Jika bantuan sudah tiba, segera jauhi lokasi bencana. Beritahu keluarga dan teman tentang keberadaan Anda. Mengirim pesan singkat bisa jadi lebih efektif dibandingkan telepon, saat masa bencana. Apabila pemerintah menyarankan untuk tetap berada di pengungsian, maka tetaplah berada di sana.

Setelah Bencana: Tetap Berada di Tempat Aman

Untuk menghindari bencana dan bahaya, pertimbangkan beberapa rekomendasi berikut:

  • Tetap bersama teman dan keluarga:

Jika memungkinkan, tetap berada di dekat mereka, daripada di tempat pengungsian sendiri.

  • Pastikan tempat tinggal Anda bersi.
  • Gunakan alat perlindungan pribadi saat membersihkan puing:
    Jika memungkinkan, kenakan sarung tangan, sepatu tebal, topi tebal, dan masker debu. Hati-hati terhadap kabel listrik dan bara yang tidak terlihat.
  • Kendalikan rutinitas harian senormal mungkin:
    Anak-anak perlu melihat bahwa Anda tetap tenang. Jangan memikirkan berita-berita tentang tragedi tersebut. Hindari melampiaskan kegelisahan maupun mengungkapkan frustrasi yang Anda rasakan kepada anggota keluarga. Terima bantuan, dan selanjutnya bantu orang lain.
  • Terimalah kenyataan bahwa bencana membawa kerugian:
    Pemerintah dan pihak lain berusaha membantu orang-orang agar selamat, bukan untuk serta-merta mengembalikan yang sudah hilang.
  • Atasi luka batin:
    Luka emosional mungkin muncul setelah syok utama terlewati. Gejalanya meliputi kegelisahan, depresi, dan perubahan suasana hati yang cepat, diikuti dengan kesulitan berpikir, bekerja, serta tidur. Untuk mengatasi hal ini, bicarakan dengan teman yang benar-benar peduli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *